Tuesday, March 20, 2012

Dampak Buruk Akibat Ambisi Terhadap Kekuasaan

1. Terhadap Pribadi Aktivis

Terhadap Pribadi Aktivis

Orang-orang yang terlalu berambisi terhadap kepemimpinan dan mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin, pada umumnya memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat berebihan, sekaligus menyepelekan peran orang lain, serta bantuan dan pertolongan Allah. Padahal telah menjadisunatullah bahwasanya Allah Ta'ala tidak akan memberikan bantuan dan pertolongan kepada para hamba-Nya yang bersikap semacam itu.

Menjerumuskan Diri Sendiri ke Dalam Fitnah dan Murka Allah

Orang yang menginginkan kekuasaan dan jabatan diumpamakan sebagai orang yang tengah meletakkan dirinya pada tempat berhembusnya angin fitnah. Orang yang dalam melaksanakan kekuasaannya tidak tidak mendapat pertolongan dan bimbingan Allah,maka mudah baginya berlaku zalim dan bertindak sewenang-wenang. Jika dia berbuat seperti itu, maka berarti dia mengundang murka Allah Ta'ala.

Alangkah indah gambaran yang disampaikan oleh Rasulullahshallahu alaihi wassalam mengenai hal itu. Sabda beliau:

"Sungguh kalian akan berambisi kepada kekuasaan. Hal itu kelak akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Baik sekali wanita yang menyusui anaknya dan buruk sekali wanita yang menyapih anaknya".

Berlipatgandanya Dosa dan Tanggungan

Seorang pemimpin pada dasarnya adalah seorang penutan. Oleh karena itu, semua tingkah lakunya, yang baik maupun yang buruk, kelak akan ditiru oleh para pengikutnya. Jika tingkah lakunya buruk ditiru, maka secara tidak sadar dia ikut menjerumuskan orang lain ke dalam lembah dosa. Di akhirat nanti, selain menanggung dosa pribadinya, dia juga akan menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya itu. Maha benar Allah dalam firman-Nya:

لِيَحْمِلُواْ أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلاَ سَاء مَا يَزِرُونَ ﴿٢٥﴾

"(Hal demikian), menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa oang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). (QS. An-Nahl [16] : 25)

Sabda Rasulullah shallahu alaihi wassalam:

"Barangsiapa yang menciptakan kebiasaan buruk dalam Islam, maka ia akan menanggung dosanya berikut dosa orang yang mengerjakan setelahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitipun."(HR. Muslim)

Terjadinya Peperangan dan Pengusiran atau Eksodus

Ambisi terhadap kekuasaandan jabatan dapat mengakibatkan kudeta, pertikaian, dan peperangan atau pengusiran (eksodus), yaitu berpindahnya rakyat secara besar-besaran dari kampung halaman atau negeri mereka.

Terhadap Amal Islami

Salah satu dampak buruk dari ambisi kekuasaan dan jabatan terhadap amal Islami yaitu akan semakin beratnya beban dan bertambah panjangnya perjalanan dakwah yang dilakukan, karena suatu amal Islami tidak mungkin berjalan dengan baik, jika para pemimpinnya bersikap ambisius atau ingin selalu menjadi pemimpin, sehingga amal Islami akan mudah dilanda kegagalan dan terhalangdari pertolongan Allah.

Firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ ﴿٤٠﴾

"Sesungguhnya Allah akan menolong orang yang menolong (agama) Nya."(QS. al-Hajj [22] : 40)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ ﴿٧﴾

"Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan pendirian kalian". (QS. Muhammad [47] : 7)

Para pendahulu umat ini -radhiallahu 'anhum- telah mengantisipasi hal itu sejak dahulu. Jika mereka mengalami keterlambatan dalam memperoleh kemenangan di medan juang, maka mereka akan segera melakukan instrospeksi diri, jangan-jangan penyebab keterlambatan datangnya pertolongan Allah itu akibat oleh sikap cinta dunia.

Kemudian mereka segera bertobat dan kembali kepada Allah. Setelah itu kemenangan pun segera mereka peroleh.

Kisah dibawah ini merupakan gambaran yang jelas mengenai hal itu.

Ketika pasukan yang dipimpin oleh Amr Ibnul Ash terhambat membebaskan negeri Mesir dari kaum kafir, maka ia mengirimkan pasukan tambahan. Khalifah Umar kemudian mengirimkan pasukan tambahan. Khalifah Umar ibnul Khaththab kemudian mengirimkan pasukan tambahan sebanyak empat ribu orang. Jadi selulruh pasukan berjumlah delapan ribu orang. Setiap seribu orang dipimpin seorang komandan.

Khalifah Umar menulis surat kepada Amru ibnul Ash, "Saya mengirim pasukan tambahan dengan komandan yang nilainya sama dengan seribu orang. Mereka itu adalah az-Zubair ibnul Awwam, Miqdaad ibnul Amru, Ibaadah ibnush-Shamit, dan Maslamah bin Mukhallad. Ketahuilah wahai Amru ibnul Ash, engkau saat ini berserta dua belas ribu pasukan. Jumlah yang tidak mungkindapat dikalahkan oleh musuh karena alasan sedikit".

Akan tetapi, ketika bala bantuan itu sampai, kemenangan tak jua kunjung datang. Oleh karena itu, Khalifah Umar mengirimkan sepucuk surat kepada panglima perang Amru ibunul Ash. Bunyi surat itu sebagai berikut :

"Amma ba'du."

"Aku heran akan kelambatanmu merebut negeri Mesir. Padahal, kalian telah berperang dalam waktu lama. Semua itu tidak terjadi, kecuali karena perbuatan kalian sendiri, dan kecintaan kalian kepada dunia seperti kecintaan musuhmu kepadanya. Allah Ta'ala tidak akan menolong suatu kaum, kecuali karena kebenaran niat mereka. Sebelum ini aku telah memberitahukan bahwa satu orang dari mereka itu sama nilainya dengan seribu orang sejauh aku ketahui, kecuali jika mereka telah berubah dengan sesuatu yang menjadikan kalian berubah."

"Jika surat ini telah sampai di tanganmu, maka bicaralah di hadapan pasukanmu dan semangatkanlah mereka untuk perang melawan musuh. Doronglah mereka agar tetap bersabara dan menjaga kebersihan niat. Yakinlah mereka dengan empat orang tadi, dan perintahkanlah mereka semuanya agar serentak dalam bertempur sepreti satu orang. Hendaklah kalian melakukan serbuan sesudah siang hari Jum'at, karena saat itu merupakan waktu turunnya rahmat dan waktu dikabulkannya doa. Hendaklah mereka memohon kepada Allah agar memperoleh kemenangan atas musuh mereka". Wallahu'alam.

Kiat Mengatasi Ambisi Terhadap Kekuasaan dan Jabatan

Bagaimana Kiat dan Cara Mengatasi Ambisi Terhadap Kekuasaan dan Jabatan?

Pertama. Di dalamnya banyak terdapat peringatan terhadap tindakan-tindakan mencalonkan diri untuk sebuah kekuasaan dan mengecam sikap keterkaitan hati dengan posisi kepemimpinan.

Kedua. Selalu mengingat beban yang harus dipikul oleh seorang pemimpin, baik di dunia maupun akhirat.

Salah satu fitrah manusia yakni mudah lupa, dan tidak dapat teratasi kecuali dengan diingatkan.

Firman Allah Ta'ala :

"Dan tetaplah memberi peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi kaum yang beriman". (QS : Dzariyat : 55)

Ketiga. Membiasakan diri bersikap taat dan berlatih meredam keinginan jiwa sejak kecil.

Sabda Nabi Shallahu alaihi wassalam :

"Beruntunglah orang yang memegang kendali kudanya dalam melakukan jihad di jalan Allah. Walau kusut rambutnya dan kakinya berdebu, namun jika ia diberi tugas untuk menjaga, ia laksanakan dengan baik, dan jika ia diberi tugas untuk mengawal di belakang, maka ia laksanakan tugasnya dengan baik". (HR. Bukhari dan Ibnu Majjah).

Keempat. Perilaku seperti ini akan menolong seseorang untuk dapat membersihkan hati serta ambisinya dari keinginan menjadi pemimin, bahkan ia justru akan bersyukur kepada Allah jika tidak memperolehnya.

Kelima. Mengingat perjalan hidup para salafush shaleh dan sikap mereka terhadap kekuasaan dan jabatan.


Sesungguhnya perjalanan hidup mereka sarat dengan kewaspadaan dan akan senantiasa menjauhkan diri dari posisi kepemimpinan tersebut, karena tanggung jawab dan akibat-akibatnya. Diriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar ra menerima jabatan sebagai khalifah, beliau berkhutbah dihadapan kaum mukminin.

"Wahai manusia, jika kalian mengira bahwa aku menjabat kedudukan khalifah ini karena ambisiku atau karena keinginanku untuk mengambil kepentingan pribadi atas kalian dan kaum muslimin, maka hal itu tidaklah benar. Demi zat yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya, aku tidak menduduki jabatan ini karena ambisiku, dan sungguh bukan untuk mementingkan diri pribadi terhadap kalian dan kaum muslimin. Aku tidak menginginkannya sama sekali, dan aku tidak memohon kepada Allah terhadpa jabatan ini, baik secara rahasia atau secara terang-terangan. Aku sungguh telah memikul suatu masalah yang amat besar di mana aku tidak mampu memikulnya kecuali bila aku ditolong oleh Allah. Sesungguhnya aku ingin sekali jabatan kekhalifahan ini diserahkan kepada salah seorang shahabat Rasulullah shallahu alaihi wassalam, yang lain dengan keharusan berlaku adil, maka aku akan mengembalikannya kepada kalian, dan untukku tiak ada bai'at bagi kalian, serahkan lah jabatan ini kepada seorang yang kalian sukai, aku tidak lain hanyalah salah seorang dari kalian". (Kanz al-Ummaal, 'Alaauddiin al-Muttaqi, 5/615)

Ketika masa-masa akhir jabatan Umar ibnul Khatthab, ia menunjuk enam orang untu memusyawarahkan jabatan khalifah. Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengusulkan kepada Umar ibnu Khtatthab agar anaknya (Abdullah bin Umar) yang menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Maka Umar marah dan menolak usulan itu dengan berkata:

"Celakalah engka! Demi Allah, aku tidak meminta kepada Allah akan hal ini. Aku tidak memiliki kecakapan apa-apa dalam mengurus masalah kalian, dan kau tidak mensyukurinya, sehingga aku ingin agar jabatan kekhalifahan diduduki oleh seorang dari keluargaku. Jika kursi kekhalifahan diduduki oleh seorang dari keluargaku. Jika kursi kekhalifahan ini adalah kebaikan, maka aku telah memperolehnya, dan jika hal ini suatu keburukan, maka cukuplah salah seorang dari keluarga Umar yang akan dihisab dan ditanya tentang permasalahan umat Muhammad Shallahu alaihi wassalam. Aku sudah berupaya semampuku dan telah mengharamkan keluargaku. Dan jika aku selamat dari siksa, tidak menanggung dosa, dan tanpa memperoleh pahala, maka hal itu sudah cukp membuatku senang". (Akhbaar Umar, at-Thanthawiyaan, hal 452).

Umar bin Abdul Aziz ketka dilantik menjadi khalifah, ia di datangi oleh seorang tentara pengawal untuk berjalan di hadapannya dengan sebilah tombak sebagaimana kebiasaan lyang berlaku bagi para khalifah sebelumnya. Maka Umar berkata kepada orang itu, "Ada urusan apa antara aku dan kamu? Menjauhlah dariku. Aku hanya seorang dari kaum muslimin". Kemudian ia berjalan bersama orang-orang samp;ai memasuki masjid. Ia menaiki mimbar dan orang-orang berkumpul dihadapannya. Lantas ia berkata :

"Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diuji, karena urusan kekhalifahan ini tanpa pendapatku dalam hal tersebut, tanpa permintaanku, dan tanpa musyawarah dengan kaum muslimin. Sesungguhnya aku telah melepaskan bai'at kalian terhadapku, maka pilihlah orang lain untuk mengurus permasalahan kalian, yang kalian kehendaki".

Mendengar hal itu kaum muslimin berteriak dengan suara bulat, "Kami telah memilihmu untuk mengurus masalah kami, dan kami semua telah ridha denganmu..." (al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/212-213).

Keenam. Merenungi kedudukan dunia dari akhirat, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur'an dan dituturkan oleh Rasulullah shallahu alaihi wassalam.

Allah Ta'ala berfirman :

".. Katakanlah, Kenikmatan duniawi itu sangat sedikit, sedangkan akhrat itu lebih baik bagi siapa yang bertakwa ". (QS : An-Nisaa' : 77)

".. Padahal kenikmatan hidup dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit". (QS : At-Taubah : 38)

" .. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (QS : al-Imran : 14)